Baca Juga
Perang melawan vektor adalah perang yang panjang dan membutuhkan ketekunan. Namun, ini adalah perang yang harus kita menangkan, karena di ujung perang ini adalah kesehatan dan kehidupan jutaan manusia. (Sumber foto: Arda Dinata).
Oleh: Arda Dinata
REFERENSI - "Musuh terbesar umat manusia bukan selalu yang terlihat besar dan menakutkan, tetapi sering kali yang kecil, tersembunyi, dan merayap di antara kita."
Ketika Demam Berdarah Kembali Merenggut
Pada Januari 2025 lalu, Rumah Sakit Umum Daerah di Bandung kembali penuh sesak. Ruang perawatan anak dipenuhi pasien demam berdarah dengue (DBD). Seorang ibu menangis di lorong rumah sakit—anaknya yang berusia tujuh tahun baru saja meninggal setelah empat hari berjuang melawan DBD. "Padahal rumah kami bersih, Pak. Saya rajin menguras bak mandi," ucapnya di sela isak tangis.
Di tempat lain, seorang petani di Flores Timur terbaring lemah karena malaria. Sudah tiga kali ia terserang penyakit yang sama dalam dua tahun terakhir. Rumahnya yang berada di kaki gunung, dikelilingi semak belukar dan genangan air, menjadi surga bagi nyamuk Anopheles (nyamuk malaria).
Sementara itu, di Jakarta, kasus leptospirosis meningkat tajam pasca-banjir. Puluhan orang harus dirawat di rumah sakit karena terinfeksi bakteri yang dibawa oleh urine tikus. Mereka adalah korban dari sanitasi lingkungan yang buruk, sampah yang menumpuk, dan selokan yang mampet—habitat sempurna bagi tikus berkembang biak.
Ketiga kisah ini adalah cermin dari kegagalan kita dalam mengendalikan vektor dan binatang pembawa penyakit. Di era modern ini, dengan segala kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, kita masih kalah dalam perang melawan makhluk-makhluk kecil yang telah membunuh jutaan manusia sepanjang sejarah.
Sejarah Kelam: Ketika Vektor Mengubah Peradaban
Sejarah umat manusia tidak bisa dipisahkan dari sejarah penyakit yang ditularkan oleh vektor. Wabah pes (Black Death/Kematian Hitam) yang melanda Eropa pada abad ke-14 membunuh sepertiga populasi benua itu—sekitar 75-200 juta jiwa. Penyebabnya adalah bakteri Yersinia pestis yang ditularkan oleh kutu tikus. Wabah ini mengubah struktur sosial, ekonomi, dan politik Eropa secara fundamental.
Pada abad ke-19, pembangunan Terusan Panama terhenti karena ribuan pekerja mati akibat malaria dan demam kuning (yellow fever/demam kuning). Barulah setelah Dr. Carlos Finlay dan Walter Reed membuktikan bahwa kedua penyakit tersebut ditularkan oleh nyamuk, upaya pengendalian vektor dilakukan secara sistematis. Hasilnya, pembangunan terusan bisa dilanjutkan dan selesai pada tahun 1914.
Di Indonesia, sejarah kolonial juga diwarnai oleh perjuangan melawan penyakit bawaan vektor. Pada awal abad ke-20, malaria menjadi pembunuh nomor satu di Hindia Belanda. Program pemberantasan malaria dimulai dengan pemetaan habitat nyamuk, drainase rawa-rawa, dan penggunaan kina sebagai obat. Namun, program ini hanya fokus pada kota-kota besar dan pemukiman Belanda, sementara penduduk pribumi tetap menjadi korban.
Setelah kemerdekaan, Indonesia meluncurkan program pemberantasan malaria secara masif pada tahun 1959 dengan menggunakan DDT (diklorodifeniltrikloroetana) untuk menyemprot rumah-rumah. Program ini cukup berhasil menurunkan angka malaria, tetapi kemudian terhenti karena resistensi nyamuk terhadap insektisida dan kekhawatiran akan dampak lingkungan DDT.
Untuk DBD, Indonesia mencatat kasus pertama pada tahun 1968 di Jakarta dan Surabaya. Sejak itu, DBD menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berulang setiap tahun, dengan pola yang sangat terkait dengan curah hujan, kebersihan lingkungan, dan perilaku masyarakat.
Data yang Mengkhawatirkan: Vektor yang Kembali Mengancam
Data terkini menunjukkan bahwa penyakit bawaan vektor masih menjadi ancaman serius di Indonesia. Menurut Kementerian Kesehatan RI tahun 2024, kasus DBD pada Januari 2025 meningkat 47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan jumlah kasus mencapai 16.542 dan 142 kematian. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat hingga puncak musim hujan di Februari-Maret.
Untuk malaria, meski Indonesia telah berhasil menurunkan kasus secara signifikan—dari 2,9 juta kasus pada tahun 2000 menjadi sekitar 228.000 kasus pada tahun 2023—namun penyakit ini masih endemis di wilayah Indonesia Timur, terutama Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. Laporan World Health Organization (WHO) tahun 2023 menempatkan Indonesia sebagai negara dengan beban malaria tertinggi ketiga di Asia Tenggara setelah India dan Myanmar.
Untuk penyakit yang dibawa tikus, data Ditjen P2P Kementerian Kesehatan RI tahun 2023 mencatat ada sekitar 5.200 kasus leptospirosis dengan Case Fatality Rate (CFR—angka kematian kasus) mencapai 9,8 persen. Angka ini meningkat tajam setiap kali terjadi banjir. Selain leptospirosis, pes juga masih ditemukan sporadis di beberapa daerah, terutama di daerah pegunungan dengan populasi tikus yang tinggi.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS Neglected Tropical Diseases (2022) memperkirakan bahwa perubahan iklim akan memperluas distribusi geografis vektor penyakit tropis. Peningkatan suhu global membuat nyamuk Aedes aegypti (nyamuk DBD) dan Anopheles bisa bertahan di ketinggian yang lebih tinggi dan lintang yang lebih jauh dari ekuator. Artinya, daerah-daerah yang sebelumnya bebas dari penyakit ini akan menjadi endemis.
Penelitian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 2023 menemukan bahwa resistensi nyamuk terhadap insektisida semakin meningkat. Sekitar 67 persen populasi nyamuk Aedes aegypti di Jakarta sudah resisten terhadap insektisida piretroid yang umum digunakan. Ini membuat program fogging (pengasapan) menjadi kurang efektif dan membutuhkan strategi pengendalian alternatif.
Refleksi Kritis: Mengapa Kita Terus Kalah?
Dalam lebih dari dua dekade bekerja sebagai tenaga sanitasi lingkungan, saya sering bertanya: mengapa dengan semua pengetahuan dan teknologi yang kita miliki, kita masih terus kalah dalam perang melawan vektor? Jawabannya kompleks, tetapi bisa dirangkum dalam beberapa poin krusial.
Pertama, kita masih terjebak dalam pendekatan reaktif, bukan preventif. Program pengendalian vektor baru gencar dilakukan ketika ada Kejadian Luar Biasa (KLB). Fogging dilakukan ketika sudah ada yang meninggal. Drainase dan pembersihan sarang nyamuk baru dilakukan ketika kasus sudah melonjak. Padahal, pengendalian vektor yang efektif adalah yang dilakukan secara rutin dan konsisten sepanjang tahun.
Kedua, pendekatan yang masih terlalu bergantung pada insektisida kimia. Fogging memang memberikan efek instan—nyamuk dewasa mati dalam hitungan jam. Namun, fogging tidak membunuh jentik nyamuk dan tidak mengubah kondisi lingkungan yang menjadi habitat nyamuk. Lebih parah lagi, penggunaan insektisida yang berlebihan justru mempercepat terjadinya resistensi.
Saya masih ingat percakapan dengan seorang kepala desa yang meminta agar desanya di-fogging setiap minggu. "Pak, kalau di-fogging terus, nyamuk kan mati semua," katanya dengan yakin. Saya harus menjelaskan bahwa fogging bukan solusi jangka panjang, dan yang lebih penting adalah mengubah lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Namun, menjelaskan ini tidak mudah, karena fogging memberikan kepuasan instan—terlihat banyak nyamuk yang mati—sementara kegiatan 3M Plus (menguras, menutup, mengubur, plus menghindari gigitan nyamuk) tidak memberikan hasil yang langsung terlihat.
Ketiga, fragmentasi tanggung jawab. Pengendalian vektor bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan. Ia membutuhkan keterlibatan sektor lingkungan hidup (untuk pengelolaan sampah dan drainase), sektor pekerjaan umum (untuk infrastruktur), sektor pendidikan (untuk edukasi), dan yang terpenting, partisipasi masyarakat. Namun, koordinasi antar-sektor ini sering tidak berjalan baik.
Keempat, dan ini yang paling fundamental, adalah masalah perilaku dan budaya. Program 3M Plus sebenarnya sangat sederhana dan efektif. Jika setiap rumah tangga menguras tempat penampungan air seminggu sekali, menutup rapat tempat penyimpanan air, dan mengubur atau mendaur ulang barang bekas yang bisa menampung air hujan, populasi nyamuk akan turun drastis. Namun, konsistensi adalah masalahnya.
Saya sering menemukan rumah-rumah yang bersih dan indah, tetapi di belakangnya ada tumpukan ban bekas, ember rusak, atau kaleng bekas yang penuh dengan air hujan dan jentik nyamuk. Ketika ditanya, jawaban yang sering saya dengar adalah, "Iya, Pak, nanti akan saya bersihkan kalau sempat." Inilah masalahnya: sanitasi lingkungan selalu dianggap sebagai pekerjaan yang bisa ditunda, padahal nyamuk tidak pernah menunda siklus hidupnya.
Pengendalian Vektor yang Holistik dan Berkelanjutan
Pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit membutuhkan pendekatan yang holistik, integratif, dan berkelanjutan. Ini bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam satu atau dua program, melainkan membutuhkan komitmen jangka panjang dan perubahan paradigma.
Pertama, penguatan pendekatan Integrated Vector Management (IVM—pengelolaan vektor terpadu). IVM mengombinasikan berbagai metode pengendalian—fisik, biologis, dan kimiawi—berdasarkan prinsip efektivitas, efisiensi, dan keberlanjutan lingkungan. Penggunaan insektisida kimia harus menjadi pilihan terakhir, setelah metode lain tidak efektif.
Metode fisik seperti pengelolaan lingkungan untuk menghilangkan habitat vektor harus menjadi prioritas utama. Ini termasuk drainase genangan air, penutupan rapat tempat penampungan air, pengelolaan sampah yang baik, dan penataan lingkungan pemukiman agar tidak kondusif bagi vektor.
Metode biologis seperti penggunaan ikan pemakan jentik (Gambusia affinis, ikan cupang, ikan nila), bakteri Bacillus thuringiensis israelensis (Bti) yang membunuh jentik nyamuk, atau pelepasan nyamuk jantan ber-Wolbachia (bakteri yang membuat nyamuk tidak bisa menularkan virus dengue) perlu dikembangkan lebih luas.
Kedua, penguatan surveilans vektor. Sistem pemantauan populasi dan distribusi vektor harus dilakukan secara rutin dan sistematis. Data surveilans ini menjadi dasar untuk menentukan intervensi yang tepat. Teknologi seperti pemetaan digital, sistem informasi geografis (SIG), dan early warning system (sistem peringatan dini) harus dimanfaatkan.
Ketiga, pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan community-based vector control (pengendalian vektor berbasis masyarakat). Masyarakat bukan hanya sebagai objek program, tetapi sebagai subjek yang aktif dalam pengendalian vektor. Program seperti Jumantik (juru pemantau jentik) di tingkat RT/RW perlu diperkuat dan diberi insentif yang memadai.
Keempat, inovasi teknologi. Penelitian dan pengembangan metode pengendalian vektor yang inovatif harus terus didorong. Ini termasuk pengembangan vaksin dengue yang efektif dan terjangkau, penggunaan teknologi gene drive (penggerak gen) untuk memodifikasi populasi nyamuk, atau pengembangan perangkap nyamuk yang lebih efisien.
Kelima, penguatan kapasitas tenaga sanitasi lingkungan. Mereka adalah ujung tombak dalam pengendalian vektor. Pelatihan tentang identifikasi vektor, surveilans, metode pengendalian yang tepat, dan komunikasi risiko harus terus diberikan. Jumlah tenaga sanitasi lingkungan juga harus ditambah agar rasio dengan jumlah penduduk lebih ideal.
Keenam, pendekatan One Health (satu kesehatan) yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Banyak vektor yang juga menjadi vektor penyakit zoonosis (penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia). Pengendalian vektor harus mempertimbangkan aspek ekologi yang lebih luas, termasuk peran reservoir hewan dan dinamika ekosistem.
Visi Masa Depan: Indonesia Bebas Penyakit Vektor
Bayangkan sebuah Indonesia di masa depan di mana tidak ada lagi anak yang meninggal karena DBD, tidak ada lagi petani yang kehilangan produktivitasnya karena malaria, dan tidak ada lagi korban leptospirosis pasca-banjir. Visi ini bukan utopia, melainkan sesuatu yang bisa kita wujudkan jika kita serius berkomitmen.
Negara-negara seperti Singapura telah membuktikan bahwa dengan komitmen politik yang kuat, pendanaan yang memadai, penegakan hukum yang tegas, dan partisipasi masyarakat yang tinggi, penyakit vektor bisa dikendalikan secara efektif. Singapura yang dulunya endemis DBD kini hampir bebas dari penyakit ini, dengan kasus yang bisa dihitung dengan jari setiap tahunnya.
Kepada para tenaga sanitasi lingkungan, teruslah menjadi garda terdepan dalam perang melawan vektor. Tugas kalian mungkin tidak glamor, sering tidak diapresiasi, dan penuh tantangan, tetapi dampaknya sangat besar. Setiap jentik yang kalian basmi, setiap habitat vektor yang kalian hilangkan, adalah nyawa yang kalian selamatkan.
Kepada pemerintah dan pembuat kebijakan, alokasikan anggaran yang memadai untuk pengendalian vektor. Jangan hanya mengalokasikan dana besar ketika ada KLB, tetapi lakukan investasi jangka panjang untuk program preventif. Tegakkan peraturan tentang kebersihan lingkungan secara konsisten.
Kepada masyarakat, jadikan pengendalian vektor sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari. Lakukan 3M Plus bukan karena takut DBD, tetapi karena itu adalah bagian dari tanggung jawab kita untuk menjaga lingkungan. Ajarkan anak-anak sejak dini tentang pentingnya kebersihan lingkungan dan bahaya vektor.
Perang melawan vektor adalah perang yang panjang dan membutuhkan ketekunan. Namun, ini adalah perang yang harus kita menangkan, karena di ujung perang ini adalah kesehatan dan kehidupan jutaan manusia. Mari kita buktikan bahwa peradaban kita tidak akan kalah dari makhluk sekecil nyamuk atau seekor tikus.
"Kemenangan sejati bukan dinilai dari seberapa banyak musuh yang kita kalahkan, tetapi dari seberapa banyak nyawa yang kita selamatkan dari ancaman yang tak terlihat."
Daftar Pustaka
Bhatt, S., Gething, P. W., Brady, O. J., Messina, J. P., Farlow, A. W., Moyes, C. L., ... & Hay, S. I. (2013). The global distribution and burden of dengue. Nature, 496(7446), 504-507.
Campbell-Lendrum, D., Manga, L., Bagayoko, M., & Sommerfeld, J. (2015). Climate change and vector-borne diseases: What are the implications for public health research and policy? Philosophical Transactions of the Royal Society B, 370(1665), 20130552.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Profil kesehatan Indonesia 2023. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. (2023). Situasi penyakit demam berdarah dengue di Indonesia tahun 2023. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Harapan, H., Michie, A., Mudatsir, M., Sasmono, R. T., & Imrie, A. (2019). Epidemiology of dengue hemorrhagic fever in Indonesia: Analysis of five decades data from the National Disease Surveillance. BMC Research Notes, 12(1), 1-6.
Institut Pertanian Bogor. (2023). Pemetaan resistensi nyamuk Aedes aegypti terhadap insektisida di Indonesia. Bogor: IPB Press.
Liu-Helmersson, J., Stenlund, H., Wilder-Smith, A., & Rocklöv, J. (2014). Vectorial capacity of Aedes aegypti: Effects of temperature and implications for global dengue epidemic potential. PLOS ONE, 9(3), e89783.
Murdock, C. C., Evans, M. V., McClanahan, T. D., Miazgowicz, K. L., & Tesla, B. (2017). Fine-scale variation in microclimate across an urban landscape shapes variation in mosquito population dynamics and the potential of Aedes albopictus to transmit arboviral disease. PLOS Neglected Tropical Diseases, 11(5), e0005640.
Ryan, S. J., Carlson, C. J., Mordecai, E. A., & Johnson, L. R. (2019). Global expansion and redistribution of Aedes-borne virus transmission risk with climate change. PLOS Neglected Tropical Diseases, 13(3), e0007213.
World Health Organization. (2023). World malaria report 2023. Geneva: WHO Press.
World Health Organization. (2021). Global vector control response 2017-2030. Geneva: WHO Press.
Wilson, A. L., Courtenay, O., Kelly-Hope, L. A., Scott, T. W., Takken, W., Torr, S. J., & Lindsay, S. W. (2020). The importance of vector control for the control and elimination of vector-borne diseases. PLOS Neglected Tropical Diseases, 14(1), e0007831.
Jangan lupa like kalau informasi ini bermanfaat, tinggalkan jejak positif di kolom komentar, dan share ke temenmu agar mereka juga dapat manfaat yang sama ya!
Salam
Arda Dinata, adalah Penulis Produktif dan Tenaga Sanitasi Lingkungan (TSL) Ahli Muda di Loka Labkesmas Pangandaran, Kemenkes RI.
#PengendalianVektor #DBDIndonesia #KesehatanLingkungan #SanitasiIndonesia #BebasPenyakitVektor
Baca Juga
Jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah ini dan mengikuti kami di saluran WhatsApp "ProduktifMenulis.com (Group)" dengan klik link ini: WhatsApp ProduktifMenulis.com (Group) untuk mendapatkan info terbaru dari website ini.
Arda Dinata adalah Penulis di Berbagai Media Online dan Penulis Buku, Aktivitas Kesehariannya Membaca dan Menulis, Tinggal di Pangandaran - Jawa Barat.






