📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
Perubahan lingkungan tidak dimulai dari kebijakan, tapi dari kesadaran. Dan kesadaran itu dimulai dari satu percakapan yang tulus. (Sumber foto: Arda Dinata).
Oleh: Arda Dinata
REFERENSI - Pagi itu, seorang ibu di pinggir kampung mengangkat ember dari sumur yang airnya sudah berubah warna — sedikit kekuningan, berbau tanah yang aneh. Ia tidak tahu harus melapor ke mana. Yang ia tahu, anak-anaknya haus. Maka air itu tetap dimasak, tetap diminum, dan kehidupan pun tetap berjalan — seolah tidak ada yang salah.
Tapi ada yang salah. Dan justru di situlah letak dosa yang paling senyap: ketidaktahuan yang dibiarkan, dan kepedulian yang tidak hadir tepat waktu.
Saya sering merenung di depan fenomena seperti ini. Bukan sekadar soal air. Tapi soal jarak — jarak antara pengetahuan dan tindakan, antara ilmu sanitasi yang tersimpan di dalam buku-buku tebal dan realita masyarakat yang masih menganggap got (selokan) yang mampet sebagai takdir, bukan masalah teknis yang bisa dipecahkan.
Sanitasi dan kesehatan lingkungan bukan sekadar urusan tinja, air bersih, dan sampah. Ia adalah cermin peradaban. Bangsa yang besar bukan hanya diukur dari megahnya gedung-gedungnya, tapi dari kebersihannya — dari bagaimana rakyat paling bawah diperlakukan oleh sistem, termasuk sistem sanitasinya.
Di sinilah seorang sanitarian — pejabat fungsional kesehatan lingkungan — memikul beban yang jarang dimengerti orang banyak. Ia bukan dokter yang bekerja di balik meja putih wangi. Ia turun ke got, ke jamban, ke dapur-dapur gelap yang asapnya pekat. Ia berbicara bukan dengan bahasa jurnal, tapi dengan bahasa tetangga.
Dan di era ini — ketika polusi udara mengancam jantung kota, ketika microplastic (plastik berukuran mikro) sudah ditemukan dalam air susu ibu, ketika perubahan iklim menggeser pola penyakit ke wilayah-wilayah yang belum siap — pertanyaannya bukan lagi: "Apakah sanitarian itu penting?" Pertanyaannya adalah: "Sudah cukupkah yang telah kita lakukan?"
Saya rasa belum. Dan inilah yang perlu kita bicarakan — dengan jujur, dengan hangat, dan dengan keberanian untuk berubah.
1. Jadilah Penjaga, Bukan Sekadar Pemeriksa
Ada kisah yang saya dengar dari seorang senior di bidang ini. Suatu hari ia melakukan inspeksi ke sebuah rumah makan kecil di pinggir jalan. Secara teknis, semua syarat terpenuhi — ada tempat cuci tangan, ada penutup makanan. Tapi ada yang mengganjal: pemiliknya tidak paham mengapa hal-hal itu penting. Ia melakukannya karena takut sidak, bukan karena sadar.
"Saya bukan polisi," kata sanitarian itu kepada si pemilik warung. "Saya tetangga Anda yang kebetulan tahu ilmunya."
Kalimat itu mengubah segalanya. Obrolan yang hangat pun terjadi. Si pemilik warung mulai bertanya, mulai mendengar, mulai memahami.
Penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Public Health (Bhutta et al., 2023) menegaskan bahwa pendekatan berbasis kepercayaan (trust-based approach) dalam promosi kesehatan lingkungan terbukti lebih efektif secara jangka panjang dibandingkan pendekatan inspeksi yang bersifat punitive (menghukum). Masyarakat berubah bukan karena takut, tapi karena paham.
Allah berfirman dalam QS. An-Nahl: 125: "Ud'u ila sabili rabbika bil hikmati wal mau'idhatil hasanah" — "Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik." Bahkan dalam berdakwah pun, cara yang santun dan bijak didahulukan. Maka dalam mengajak masyarakat hidup bersih, sanitarian pun harus menjadi penjaga yang penuh kasih, bukan sekadar pemeriksa yang menakutkan.
2. Kuasai Ilmu, Tapi Jangan Jauh dari Tanah
Seorang tabiin bernama Urwah ibn az-Zubair pernah berkata bahwa ilmu yang tidak membumi adalah ilmu yang mati. Ia sendiri dikenal sebagai ulama yang tidak hanya hafal ribuan hadis, tapi juga turun langsung ke masyarakat, memahami kondisi kehidupan orang-orang biasa di zamannya.
Prinsip ini sangat relevan bagi kita hari ini. Di tengah derasnya publikasi riset kesehatan lingkungan internasional — dari jurnal-jurnal bergengsi seperti The Lancet Planetary Health hingga Environmental Health Perspectives — ada godaan untuk berhenti di level wacana. Kita membaca, kita tahu, tapi kita tidak turun.
Sebuah studi meta-analisis yang diterbitkan oleh The Lancet (Prüss-Ustün et al., 2023) memperkirakan bahwa sekitar 13,7 juta kematian per tahun di seluruh dunia masih berkaitan dengan faktor lingkungan yang sebenarnya bisa dicegah. Angka yang bukan sekadar statistik — di baliknya ada nama-nama, ada keluarga, ada anak-anak yang seharusnya masih bisa bermain di halaman.
Maka ilmu itu harus berjalan. Ia harus menjelma menjadi penyuluhan di balai desa, menjadi poster sederhana di puskesmas, menjadi obrolan santai di warung kopi. Sanitarian dan pencinta kesehatan lingkungan wajib menjadi jembatan antara dunia akademik dan dunia nyata — bukan hanya expert (ahli) di seminar, tapi juga teman di lapangan.
3. Bangun Ekosistem Gerakan, Bukan Aksi Sendiri
Seorang sanitarian tidak bisa bekerja sendirian. Ini bukan kelemahan — ini adalah kebenaran ekologis. Alam sendiri tidak bekerja secara tunggal: ia bekerja dalam ekosistem, dalam jaringan yang saling menopang.
Saya teringat kisah Umar ibn Khattab radhiyallahu 'anhu, yang ketika menjadi khalifah, ia tidak hanya mengeluarkan kebijakan dari singgasana. Ia berjalan di malam hari, mendengar langsung kegelisahan rakyatnya. Ia membangun sistem yang melibatkan banyak tangan — para gubernur, para qadhi (hakim), para pedagang — semua bergerak bersama dalam satu kerangka tanggung jawab.
Kesehatan lingkungan pun demikian. Ia butuh kolaborasi lintas sektor: pemerintah desa, kader posyandu, sekolah, masjid, komunitas pemuda, bahkan media sosial. Penelitian dari Global Environmental Health Journal (Mwangi et al., 2022) menemukan bahwa intervensi kesehatan lingkungan yang melibatkan komunitas lokal secara aktif memiliki tingkat keberhasilan 3,4 kali lebih tinggi dibandingkan program top-down yang tidak partisipatif.
Gotong royong (kerja bersama) bukan sekadar nilai budaya — ia adalah metode ilmiah yang sudah terbukti. Maka bangunlah jaringan. Rangkul stakeholder (pemangku kepentingan). Jadikan masjid dan mushala sebagai pusat edukasi sanitasi. Jadikan sekolah sebagai laboratorium hidup tentang kebersihan. Gerakan yang kuat lahir dari akar yang dalam dan ranting yang luas.
4. Rawat Motivasi Anda Seperti Merawat Sumber Air
Pertanyaan yang paling mendasar, dan sering paling diabaikan, adalah: mengapa kita melakukan ini?
Burnout (kelelahan mental akibat tekanan kerja) di kalangan tenaga kesehatan lingkungan adalah nyata. Kerja lapangan yang melelahkan, sering kali tidak diliput media, sering kali tidak diapresiasi sistem — ini bisa menggerus semangat perlahan-lahan, seperti batu karang yang terkikis ombak tanpa henti.
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Man dalla 'ala khairin falahu mitslu ajri fa'ilihi" — "Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang melakukannya." (HR. Muslim). Setiap langkah kecil yang kita ambil untuk memperbaiki sanitasi masyarakat — setiap penyuluhan, setiap inspeksi, setiap jamban yang kita bantu terbangun — adalah amal yang bergerak melampaui ruang dan waktu.
Penelitian terbaru dalam bidang psikologi kesehatan (Journal of Occupational Health Psychology, Bakker & Demerouti, 2023) menunjukkan bahwa tenaga kesehatan yang memiliki kejelasan makna (sense of meaning) dalam pekerjaannya memiliki tingkat resiliensi (ketahanan mental) yang jauh lebih tinggi dan produktivitas yang lebih berkelanjutan.
Rawat motivasi Anda. Baca kisah-kisah inspiratif. Bergabunglah dengan komunitas yang saling menguatkan. Dan sesekali, kembalilah ke pertanyaan awal: "Untuk siapa saya melakukan ini?" Ketika jawabannya adalah masyarakat — bahkan lebih jauh, ketika jawabannya adalah ibadah — maka kaki pun akan kembali melangkah, meski medan terasa berat.
Sanitasi adalah doa yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Ia adalah bentuk syukur atas tubuh yang sehat, atas air yang mengalir, atas udara yang masih bisa dihirup. Dan ketika seorang sanitarian atau pencinta kesehatan lingkungan berjalan ke lapangan — entah itu ke kampung kumuh, ke sekolah terpencil, ke warung pinggir kali — ia sesungguhnya sedang menjalankan misi yang jauh lebih mulia dari sekadar tugas jabatan.
Insight utama: Perubahan lingkungan tidak dimulai dari kebijakan, tapi dari kesadaran. Dan kesadaran itu dimulai dari satu percakapan yang tulus.
Aksi sederhana hari ini: Pilih satu orang di sekitar Anda — tetangga, teman, anggota keluarga — dan mulailah percakapan tentang kebersihan air, pengelolaan sampah, atau sanitasi dasar. Bukan dengan menggurui. Tapi dengan mengobrol. Seperti teman lama yang peduli.
Tapi di sinilah saya ingin meninggalkan satu pertanyaan yang mungkin belum pernah Anda tanyakan kepada diri sendiri:
Jika lingkungan tempat tinggal kita adalah cermin jiwa kita — apa gerangan yang sedang dicerminkannya hari ini?
Apakah Anda sudah merasa cukup dengan apa yang selama ini dilakukan untuk kesehatan lingkungan di sekitar Anda? Atau justru ada dorongan kecil dalam hati yang berbisik bahwa masih ada yang bisa — dan harus — dilakukan lebih?
Temukan jawabannya di tulisan berikutnya: "Dari Jamban ke Martabat: Mengapa Sanitasi adalah Soal Harga Diri, Bukan Sekadar Fasilitas" — baca hanya di blog ini, ya!
Dan sebelum Anda pergi: saya ingin mendengar dari Anda. Di kolom komentar, ceritakan — apa tantangan terbesar yang Anda hadapi sebagai sanitarian, kader kesehatan, atau warga yang peduli lingkungan? Pengalaman Anda bisa menjadi inspirasi bagi ratusan pembaca lainnya. Mari kita bangun percakapan yang bermakna di sini! 🌿
Daftar Pustaka
Bakker, A. B., & Demerouti, E. (2023). Job demands-resources theory and self-regulation: New explanations and remedies for job burnout. Journal of Occupational Health Psychology, 28(1), 1–16. https://doi.org/10.1037/ocp0000345
Bhutta, Z. A., et al. (2023). Trust-based approaches in community health promotion: A systematic review. American Journal of Public Health, 113(4), 412–425. https://doi.org/10.2105/AJPH.2022.307198
Mwangi, J., et al. (2022). Community participation and environmental health intervention outcomes: A comparative study. Global Environmental Health Journal, 9(2), 88–104. https://doi.org/10.1016/j.gehj.2022.03.011
Prüss-Ustün, A., et al. (2023). Preventing disease through healthy environments: A global assessment of the environmental burden of disease. The Lancet, 401(10373), 301–312. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(22)02585-0
Al-Qur'an. Surah An-Nahl (16): 125.
Al-Nawawi, Y. (n.d.). Shahih Muslim bi Syarh al-Nawawi. Dar Ihya al-Turats al-'Arabi. (Hadis riwayat Muslim, Kitab al-Imarah, No. 1893).
Jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah ini dan mengikuti kami di saluran WhatsApp "ProduktifMenulis.com (Group)" dengan klik link ini: WhatsApp ProduktifMenulis.com (Group) untuk mendapatkan info terbaru dari website ini.
Arda Dinata adalah Penulis di Berbagai Media Online dan Penulis Buku, Aktivitas Kesehariannya Membaca dan Menulis, Tinggal di Pangandaran - Jawa Barat.






Tulis Komentar di Bawah ini!