📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
Sanitasi yang sejati tidak dimulai dari keran atau kloset. Ia dimulai dari keyakinan bahwa setiap manusia — tanpa terkecuali — berhak hidup dalam lingkungan yang memanusiakan dirinya. (Sumber foto: Arda Dinata).
Oleh: Arda Dinata
REFERENSI - Di sebuah desa kecil di Jawa Tengah, saya pernah bertemu seorang kakek tua yang duduk di depan rumahnya yang sederhana. Rumahnya berdinding anyaman bambu, lantainya tanah, namun halamannya bersih tersapu. Ketika saya tanya mengapa ia tidak memiliki jamban — sementara program pemerintah sudah menawarkan bantuan — ia menjawab dengan tenang: "Wong ora duwe, ora isin. Sing isin iku nek duwe tapi ra gelem nganggo." (Orang tidak punya, tidak malu. Yang malu itu kalau punya tapi tidak mau pakai.)
Kalimat itu sederhana. Tapi ia menghantam kesadaran saya seperti batu yang dilempar ke permukaan danau tenang — ripplenya (riak gelombangnya) melebar jauh ke mana-mana.
Ternyata sanitasi bukan sekadar perkara teknis. Bukan hanya soal ada-tidaknya jamban, mengalir-tidaknya air bersih, atau terpilah-tidaknya sampah. Sanitasi adalah perkara martabat. Ia adalah pertanyaan tentang bagaimana kita memandang diri sendiri sebagai manusia — dan bagaimana kita memandang sesama.
Di banyak tempat di negeri ini, masih ada saudara-saudara kita yang buang air besar di sungai, di semak belakang rumah, atau di ladang. Bukan karena mereka tidak tahu mana yang bersih dan mana yang tidak. Tapi karena selama bertahun-tahun, mereka merasa bahwa memiliki jamban adalah kemewahan — bukan hak. Dan ketika seseorang tidak lagi merasa berhak atas sesuatu yang sebenarnya adalah haknya, di sanalah martabat mulai terkikis — pelan-pelan, tanpa suara.
Saya tidak ingin menghakimi. Saya ingin mengajak kita semua merenung bersama: mengapa di abad ke-21 ini, dengan segala teknologi dan kemajuan yang ada, masih ada manusia yang tidak bisa buang air dengan bermartabat? Dan apa yang sebenarnya bisa kita lakukan — bukan hanya sebagai petugas kesehatan, tapi sebagai sesama manusia yang saling bertanggung jawab?
1. Sanitasi adalah Hak, Bukan Hadiah
Tahun 2010, Perserikatan Bangsa-Bangsa secara resmi mengakui akses terhadap air bersih dan sanitasi sebagai hak asasi manusia. Bukan rekomendasi. Bukan anjuran. Hak. Artinya, setiap manusia yang lahir ke dunia ini — tanpa memandang status sosial, ekonomi, atau geografi — berhak mendapatkan akses terhadap sanitasi yang layak dan bermartabat.
Namun data berbicara lain. Laporan WHO/UNICEF Joint Monitoring Programme (2023) mencatat bahwa masih terdapat sekitar 3,5 miliar orang di dunia yang belum memiliki akses ke sanitasi yang aman dan dikelola dengan baik. Di Indonesia sendiri, open defecation (buang air besar sembarangan) masih menjadi tantangan nyata di sejumlah wilayah pedesaan dan daerah terpencil.
Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Isra': 70: "Wa laqad karramnaa banii aadama" — "Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam." Pemuliaan itu bukan sekadar soal ruh dan akal — ia juga soal tubuh, soal cara manusia hidup, makan, dan buang hajat dengan layak. Maka membiarkan sesama manusia hidup dalam kondisi sanitasi yang tidak bermartabat adalah pengingkaran — kecil tapi nyata — atas prinsip kemuliaan itu.
Ada seorang kader kesehatan di Lombok yang pernah bercerita kepada saya. Ia menghabiskan tiga bulan mendampingi satu dusun — bukan dengan membangun jamban, tapi dengan duduk bersama warga, makan bersama, berbicara tentang impian mereka. Ketika hubungan itu terbentuk, barulah ia pelan-pelan mengajak mereka bicara tentang sanitasi. Hasilnya? Dua belas keluarga membangun jamban secara swadaya dalam waktu dua bulan. Bukan karena proyek. Tapi karena mereka akhirnya merasa bahwa mereka layak mendapatkannya.
2. Tubuh yang Bersih adalah Cermin Jiwa yang Terhormat
Di dalam tradisi Islam, kebersihan bukan sekadar sunnah estetik. Ia adalah fondasi ibadah. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "At-thahaatu syatrul iimaan" — "Kebersihan adalah sebagian dari iman." (HR. Muslim, No. 223). Separuh dari iman. Bukan sepertiga. Bukan seperempat. Separuh.
Ini bukan sekadar tentang wudhu atau mandi. Ini adalah pernyataan kosmologis: bahwa manusia yang menjaga kebersihan dirinya dan lingkungannya sedang menjalankan perintah langit yang paling membumi.
Riset yang diterbitkan dalam Lancet Global Health (Freeman et al., 2022) menunjukkan bahwa intervensi sanitasi yang komprehensif — mencakup perubahan perilaku, bukan hanya infrastruktur — mampu menurunkan angka stunting (gagal tumbuh pada anak) pada anak balita hingga 14,6 persen dalam jangka tiga tahun. Stunting bukan hanya soal gizi. Ia juga soal lingkungan hidup anak sejak hari pertama ia bernapas di dunia.
Saya teringat kisah Salman Al-Farisi radhiyallahu 'anhu — sahabat Nabi yang berasal dari Persia, terbiasa dengan peradaban yang rapi dan teratur. Ketika memasuki Islam, ia tidak meninggalkan kebiasaan baiknya dalam menjaga kebersihan. Ia justru memperkayanya dengan nilai spiritual. Ia pernah berkata bahwa rumah yang bersih adalah rumah yang mengundang rahmat. Rumah yang jorok mengusir malaikat.
Kalimat itu bukan dongeng. Ia adalah wisdom (kebijaksanaan) yang kini dikonfirmasi oleh sains: lingkungan yang bersih secara langsung berkorelasi dengan kesehatan mental, produktivitas, dan kualitas hidup penghuninya (Hoisington et al., 2022).
3. Ubah Narasi: Dari Malu ke Bangga
Salah satu hambatan terbesar dalam program sanitasi di masyarakat adalah narasi yang keliru. Selama ini, kampanye sanitasi sering dibangun di atas rasa malu — "malu buang air sembarangan", "malu rumahnya jorok". Dan memang, rasa malu kadang efektif dalam jangka pendek. Tapi ia tidak membangun kesadaran yang tahan lama.
Yang dibutuhkan bukan rasa malu. Yang dibutuhkan adalah rasa bangga.
Bangga memiliki jamban yang bersih. Bangga air di rumah kita aman diminum. Bangga lingkungan RT kita bebas dari genangan dan sampah. Bangga karena kita tahu bahwa anak-anak kita tumbuh dalam lingkungan yang melindungi mereka.
Penelitian dari Journal of Water, Sanitation and Hygiene for Development (Dreibelbis et al., 2022) mengungkap bahwa pendekatan berbasis social norms (norma sosial) — yaitu mengubah persepsi tentang apa yang dianggap normal dan membanggakan dalam komunitas — jauh lebih efektif dan berkelanjutan dibandingkan pendekatan berbasis rasa malu atau ketakutan.
Khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang dikenal sebagai Umar II, pernah memerintahkan agar setiap sudut kota dibersihkan — bukan karena takut penyakit, tapi karena ia percaya bahwa kota yang bersih adalah cermin dari pemerintahan yang amanah dan rakyat yang bermartabat. Ia memulai dari istana, turun ke jalan, dan menyelesaikannya di lorong-lorong sempit pasar. Urutan itu bukan kebetulan — ia adalah pelajaran kepemimpinan yang paling konkret tentang sanitasi.
Maka mulailah dari diri sendiri. Dari rumah sendiri. Dari RT sendiri. Dan ceritakan kebanggan itu kepada tetangga — bukan dengan menggurui, tapi dengan menginspirasi.
4. Jadikan Sanitasi sebagai Gerakan Budaya, Bukan Program Sementara
Program sanitasi datang dan pergi. Proyek berakhir, anggaran habis, petugas berganti. Tapi budaya — ia tinggal. Ia diwariskan dari orang tua ke anak, dari guru ke murid, dari tetua kampung ke generasi berikutnya.
Inilah yang membedakan perubahan yang sesungguhnya dari perubahan yang semu: apakah ia sudah menjadi bagian dari cara hidup, atau masih sekadar respons terhadap program?
Di Jepang, budaya kebersihan bukan lahir dari regulasi semata. Ia lahir dari nilai — dari konsep shokunin (pengrajin atau penjaga keahlian yang bertanggung jawab penuh atas kualitas kerjanya) yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menjaga kebersihan ruang publik. Di sana, anak-anak sekolah membersihkan kelas mereka sendiri — bukan karena ada petugas kebersihan, tapi karena itu adalah bagian dari tarbiyah (pendidikan karakter) mereka.
Studi komparatif yang diterbitkan dalam Environmental Education Research (Zwickle et al., 2023) menyimpulkan bahwa integrasi nilai-nilai kebersihan lingkungan dalam pendidikan karakter sejak usia dini memiliki dampak jangka panjang yang signifikan terhadap perilaku sanitasi masyarakat dewasa.
Dan dalam Islam, konsep ini bukan baru. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kullu mauluudin yuuladu 'alal fithrah" — "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (kesucian)." (HR. Bukhari, No. 1385). Fitrah itu termasuk kecenderungan kepada yang bersih, yang indah, yang teratur. Tugas kita — sebagai orang tua, pendidik, dan pemimpin komunitas — adalah menjaga agar fitrah itu tidak terkubur oleh kebiasaan buruk dan lingkungan yang permisif.
Maka jadikan sanitasi sebagai bagian dari cerita tentang siapa kita sebagai bangsa. Masukkan ia ke dalam lagu anak-anak, ke dalam khutbah Jumat, ke dalam perayaan desa, ke dalam konten media sosial yang kita buat. Bukan sebagai slogan. Tapi sebagai nilai yang hidup dan bernapas.
Jamban bukan sekadar lubang dan dinding. Ia adalah pernyataan bahwa kita percaya setiap manusia layak hidup dengan bermartabat. Air bersih bukan sekadar H₂O yang mengalir — ia adalah hak yang tidak boleh diperjualbelikan atau diabaikan. Dan lingkungan yang sehat bukan kemewahan elite — ia adalah fondasi keadilan yang paling mendasar.
Insight utama: Sanitasi yang sejati tidak dimulai dari keran atau kloset. Ia dimulai dari keyakinan bahwa setiap manusia — tanpa terkecuali — berhak hidup dalam lingkungan yang memanusiakan dirinya.
Aksi sederhana hari ini: Periksa satu sudut di rumah atau lingkungan sekitar Anda yang selama ini diabaikan — got yang tersumbat, tempat sampah yang meluap, atau kamar mandi yang jarang dibersihkan. Perbaiki hari ini. Bukan karena ada yang melihat. Tapi karena Anda tahu bahwa Anda layak hidup dalam kebersihan itu.
Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan satu pertanyaan yang mungkin terdengar sederhana, namun sesungguhnya sangat dalam:
Jika kita benar-benar percaya bahwa setiap manusia mulia di hadapan Tuhan — mengapa masih begitu mudah bagi kita untuk membiarkan sesama hidup tanpa sanitasi yang layak?
Apakah kita sudah cukup bergerak, atau baru sekadar berempati dari kejauhan? Dan jika sanitasi adalah soal harga diri — siapa yang bertanggung jawab menjaga harga diri itu tetap tegak untuk semua?
Temukan renungan lanjutannya di tulisan berikutnya: "Air Bukan Milik Siapa-Siapa: Refleksi tentang Keadilan Lingkungan di Tengah Krisis Air Bersih" — baca hanya di blog ini ya!
Sekarang giliran Anda bersuara: menurut Anda, apa hambatan terbesar yang membuat sanitasi belum menjadi prioritas di komunitas Anda? Apakah soal anggaran, kesadaran, kepemimpinan, atau ada faktor lain yang selama ini luput dari perhatian? Tuliskan di kolom komentar — karena pengalaman dan pemikiran Anda adalah bagian terpenting dari percakapan besar ini. 🌿💧
Daftar Pustaka
Dreibelbis, R., et al. (2022). Social norms and sanitation behavior change: Evidence from a multi-country study. Journal of Water, Sanitation and Hygiene for Development, 12(3), 215–229. https://doi.org/10.2166/washdev.2022.041
Freeman, M. C., et al. (2022). Assessing the impact of sanitation on stunting in children under five: A longitudinal study. Lancet Global Health, 10(4), e512–e521. https://doi.org/10.1016/S2214-109X(22)00032-3
Hoisington, A. J., et al. (2022). Indoor environment quality and mental health outcomes: A review of recent evidence. Building and Environment, 207, 108503. https://doi.org/10.1016/j.buildenv.2021.108503
WHO/UNICEF Joint Monitoring Programme. (2023). Progress on household drinking water, sanitation and hygiene 2000–2022: Special focus on gender. World Health Organization & UNICEF.
Zwickle, A., et al. (2023). Environmental education and long-term sanitation behavior: A comparative analysis across five countries. Environmental Education Research, 29(1), 44–62. https://doi.org/10.1080/13504622.2022.2123897
Al-Qur'an. Surah Al-Isra' (17): 70.
Al-Nawawi, Y. (n.d.). Shahih Muslim bi Syarh al-Nawawi. Dar Ihya al-Turats al-'Arabi. (Hadis riwayat Muslim, Kitab At-Thaharah, No. 223).
Al-Bukhari, M. (n.d.). Shahih Al-Bukhari. Dar Thuq al-Najah. (Hadis riwayat Bukhari, Kitab Al-Jana'iz, No. 1385).
Jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah ini dan mengikuti kami di saluran WhatsApp "ProduktifMenulis.com (Group)" dengan klik link ini: WhatsApp ProduktifMenulis.com (Group) untuk mendapatkan info terbaru dari website ini.
Arda Dinata adalah Penulis di Berbagai Media Online dan Penulis Buku, Aktivitas Kesehariannya Membaca dan Menulis, Tinggal di Pangandaran - Jawa Barat.






Tulis Komentar di Bawah ini!