Arda Publishing
Arda Dinata
Arda Dinata
Arda Dinata adalah penulis storytelling religius yang dikenal dengan gaya penulisannya yang lembut, empatik, dan tidak menggurui. Dengan pengalaman menulis ratusan ribu konten inspiratif yang menyentuh pembaca.

🌐 Jaringan Blog Arda Dinata
Logo Buku dan Novel Inspiratif Online
Temukan lebih banyak
Memuat daftar buku...
Udara Tak Bertuan: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Napas Kita Bersama?
Arda Dinata
Dilihat ... Bab

📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!

Polusi udara bukan bencana alam — ia adalah akumulasi dari pilihan-pilihan manusia. Dan karena ia lahir dari pilihan, ia pun bisa diubah dengan pilihan yang berbeda. (Sumber foto: Arda Dinata).

Oleh: Arda Dinata

REFERENSI - Pagi itu saya terbangun lebih awal dari biasanya. Langit di luar jendela berwarna jingga keabu-abuan — bukan karena matahari terbit yang indah, melainkan karena kabut asap yang sudah tiga hari menyelimuti kota. Saya membuka pintu, menghirup udara pagi, dan merasakan sesuatu yang aneh: tenggorokan saya perih. Seperti ada yang salah dengan udara yang seharusnya menjadi hak paling gratis yang pernah Tuhan berikan kepada manusia.

Saya berdiri di teras itu cukup lama. Memikirkan satu hal yang terasa semakin berat: udara tidak punya pemilik. Tidak ada yang bisa menunjukkan sertifikat kepemilikan atas udara yang kita hirup. Tapi anehnya, tidak ada juga yang merasa bertanggung jawab ketika udara itu rusak.

Sapa sing tanggung jawab? (Siapa yang bertanggung jawab?) Pertanyaan itu terus berputar di kepala saya seperti asap yang tidak tahu ke mana harus pergi.


Saya pernah mengunjungi sebuah kampung di pinggiran kota industri di Jawa Barat. Namanya tidak perlu saya sebut — karena ada ratusan kampung serupa di negeri ini yang nasibnya sama. Di sana, ibu-ibu menjemur pakaian di halaman sempit, dan dalam hitungan jam pakaian bersih itu sudah berdebu lagi — bukan debu tanah biasa, tapi debu halus berwarna kekuningan yang baunya menyengat. Dari pabrik mana debu itu berasal? Tidak ada yang tahu persis. Tidak ada yang bisa membuktikan. Tidak ada yang mau mengaku.

Seorang nenek di sana — usianya mungkin sekitar tujuh puluhan, punggungnya sudah membungkuk — menunjuk ke arah cerobong pabrik yang mengepul di kejauhan. Dengan nada yang sudah lelah tapi matanya masih menyimpan bara, ia berkata: "Ti baheula oge kitu, Kang. Urang mah naon atuh bisana." (Dari dulu juga begitu, Kang. Kami mau apa.)

Kalimat itu menghantam saya lebih keras dari apapun yang pernah saya baca di jurnal kesehatan manapun.

"Kami mau apa" — itu bukan kalimat pasrah. Itu kalimat yang lahir dari kelelahan panjang menghadapi ketidakadilan yang terlalu besar untuk dilawan sendirian. Dan saya, yang datang dengan tas berisi pengetahuan tentang indeks kualitas udara dan partikel PM2.5 (particulate matter berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang berbahaya bagi paru-paru), merasa tiba-tiba sangat kecil.

Pengetahuan tanpa keberanian untuk bersuara adalah kemewahan yang mubazir.


Udara bersih adalah hak asasi. Bukan slogan aktivis lingkungan. Bukan tagline kampanye politik. Ia adalah kebutuhan biologis yang paling mendasar — mendahului makanan, mendahului air, mendahului tempat tinggal. Manusia bisa bertahan tiga minggu tanpa makan, tiga hari tanpa minum, tapi hanya tiga menit tanpa udara.

Namun paradoks terbesar peradaban kita hari ini adalah ini: semakin maju sebuah bangsa secara ekonomi, semakin kotor udaranya. Pabrik-pabrik yang memproduksi kemewahan bagi sebagian orang mencuri kesehatan dari sebagian besar yang lain. Dan mereka yang paling banyak menghirup udara kotor itu adalah mereka yang paling sedikit menikmati produk-produk yang dihasilkannya.

Ini bukan kesimpulan emosional. Ini adalah temuan ilmiah. Dan lebih dari itu — ini adalah soal siapa kita sebagai manusia yang hidup berdampingan di bumi yang sama.


1. Kenali Musuh yang Tidak Terlihat

Berbeda dengan air kotor yang bisa kita lihat warnanya atau sampah yang bisa kita cium baunya, polusi udara adalah pembunuh yang datang tanpa wajah. Ia tidak berwarna, sering tidak berbau, dan dampaknya baru terasa bertahun-tahun kemudian — ketika paru-paru sudah lelah, ketika jantung sudah melemah, ketika otak anak-anak kita sudah terlanjur terdampak tanpa kita sadari.

The Lancet Planetary Health (Lelieveld et al., 2023) merilis data yang membuat saya tertegun lama: polusi udara menyebabkan sekitar 8,1 juta kematian prematur setiap tahun di seluruh dunia — melebihi kematian akibat HIV/AIDS, tuberkulosis, dan malaria digabungkan. Di Asia Tenggara, angka ini sangat tidak proporsional dibanding kontribusi kawasan ini terhadap emisi global.

Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Ar-Rum: 41: "Zhahara al-fasaadu fil barri wal bahri bimaa kasabat aydin naas" — "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia." Ayat ini turun lebih dari 14 abad lalu — jauh sebelum revolusi industri, jauh sebelum ada cerobong asap dan knalpot kendaraan. Tapi relevansinya hari ini terasa seperti teguran langsung yang dikirimkan melalui waktu.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah, ulama besar abad ke-14, dalam kitabnya Ath-Thibb An-Nabawi (Pengobatan ala Nabi) menulis secara panjang lebar tentang kualitas udara sebagai faktor kesehatan utama. Ia menyebut udara yang baik sebagai "ghidza'ur ruh" — makanan bagi ruh. Dan udara yang buruk, katanya, merusak tidak hanya tubuh tapi juga kejernihan pikiran dan ketenangan jiwa.

Maka langkah pertama kita adalah: jangan acuh pada udara yang kita hirup. Kenali kualitas udara di lingkungan Anda. Pantau indeks kualitas udara (Air Quality Index/AQI) melalui aplikasi yang tersedia. Ketahui kapan udara berbahaya bagi anak-anak dan lansia. Kesadaran ini bukan kepanikan — ia adalah kewaspadaan yang bertanggung jawab.


2. Dari Dapur ke Atmosfer: Polusi Dimulai dari Rumah Sendiri

Ini mungkin bagian yang paling tidak nyaman untuk diakui: sebagian dari masalah polusi udara yang kita keluhkan itu — kita sendiri yang menciptakannya.

Saya teringat kunjungan ke sebuah desa di Kalimantan Tengah, beberapa tahun lalu. Di sana, tradisi membakar lahan masih berlangsung — bukan karena warganya tidak tahu dampaknya, tapi karena itu adalah cara tercepat dan termurah yang mereka kenal untuk membuka ladang baru. Ketika saya berbincang dengan seorang petani paruh baya, ia mengakui dengan jujur: "Kami tahu asapnya jahat. Tapi kalau tidak bakar, anak kami makan apa?"

Di situ saya belajar sesuatu yang tidak ada di textbook (buku teks): masalah lingkungan tidak bisa diselesaikan hanya dengan ceramah. Ia harus diselesaikan dengan memastikan bahwa pilihan yang ramah lingkungan juga merupakan pilihan yang ekonomis dan terjangkau bagi semua orang — bukan hanya bagi mereka yang sudah berkecukupan.

Penelitian dari Environmental Research Letters (Shindell et al., 2022) mengonfirmasi bahwa pembakaran biomassa (bahan organik seperti kayu, jerami, atau sisa pertanian) di tingkat rumah tangga dan pertanian skala kecil menyumbang hingga 25 persen dari total emisi partikel berbahaya di Asia. Angka yang besar — dan sebagian besarnya bisa dikurangi dengan solusi sederhana: kompor bersih berenergi liquefied petroleum gas (gas cair), biogas, atau biomassa terkompresi yang lebih efisien.

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Laa dharara wa laa dhiraar" — "Tidak boleh ada bahaya yang ditimpakan kepada diri sendiri maupun kepada orang lain." (HR. Ibnu Majah, No. 2341). Prinsip ini adalah fondasi hukum lingkungan Islam yang paling kuat — bahwa tindakan kita tidak boleh menciptakan bahaya bagi tetangga, bagi komunitas, bagi generasi yang akan datang.

Maka mulailah dari dapur sendiri: kurangi pembakaran sampah, beralih ke bahan bakar yang lebih bersih, dan dorong komunitas sekitar untuk melakukan hal yang sama. Perubahan besar selalu dimulai dari perubahan kecil yang dilakukan dengan keyakinan besar.


3. Suarakan yang Diam: Advokasi sebagai Bentuk Ibadah

Di sinilah saya ingin berbicara jujur — dan mungkin sedikit keras.

Terlalu banyak dari kita yang tahu tentang polusi udara, tahu tentang dampaknya, tahu tentang pihak-pihak yang bertanggung jawab — tapi memilih diam. Entah karena merasa tidak berdaya, entah karena takut berhadapan dengan kepentingan besar, entah karena sudah terlalu lelah dengan urusan hidup sehari-hari yang tidak kunjung mudah.

Saya mengerti kelelahan itu. Sungguh. Tapi diam pun adalah pilihan — dan diam di hadapan ketidakadilan yang menyakiti banyak orang adalah pilihan yang memiliki konsekuensi moral.

Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu adalah sahabat Nabi yang terkenal karena keberaniannya berkata benar di hadapan penguasa. Ia tidak memiliki harta, tidak memiliki pasukan, tidak memiliki kekuasaan. Yang ia miliki hanya keberanian dan keyakinan. Dan itu cukup untuk membuat sejarah mengingatnya ribuan tahun kemudian.

World Resources Institute (Weisse & Goldman, 2022) mencatat bahwa advokasi sipil dan tekanan publik yang terorganisir terbukti menjadi salah satu faktor paling efektif dalam mendorong perbaikan kebijakan kualitas udara di berbagai negara — mulai dari pengetatan regulasi emisi industri di Tiongkok hingga perluasan zona rendah emisi (low emission zone) di kota-kota Eropa.

Advokasi tidak selalu berarti berdemo di jalan. Ia bisa berarti melaporkan cerobong asap ilegal melalui kanal resmi. Ia bisa berarti menulis surat terbuka kepada kepala daerah. Ia bisa berarti memilih pemimpin yang programnya nyata soal lingkungan — bukan sekadar janji di spanduk kampanye. Suara kita adalah instrumen perubahan yang paling demokratis yang pernah ada. Jangan diamkan ia.


4. Tanam, Jaga, dan Wariskan Paru-Paru Bumi

Ada hubungan yang tampaknya sepele tapi sesungguhnya sangat dalam: antara sebatang pohon di halaman rumah dan kualitas udara yang dihirup anak cucu kita dua puluh tahun dari sekarang.

Pohon adalah teknologi penyaringan udara paling canggih yang pernah diciptakan — dan ia tidak butuh listrik, tidak butuh software (perangkat lunak), tidak butuh maintenance (perawatan) yang mahal. Ia hanya butuh tanah, air, dan manusia yang mau bersabar menunggu ia tumbuh.

Urban Forestry & Urban Greening (Nowak et al., 2023) menerbitkan kajian yang menunjukkan bahwa kota dengan tutupan pohon (tree canopy) minimal 30 persen mengalami penurunan konsentrasi polutan udara PM2.5 hingga 17 persen dibandingkan kota dengan tutupan pohon di bawah 10 persen. Satu pohon dewasa mampu menyerap rata-rata 21 kilogram CO₂ (karbon dioksida) per tahun dan menghasilkan oksigen yang cukup untuk dua orang manusia.

Khalifah Umar ibn Khattab radhiyallahu 'anhu pernah berkata bahwa setiap jengkal tanah yang dibiarkan tandus padahal bisa dihijaukan adalah kelalaian yang akan dimintai pertanggungjawaban. Ia memerintahkan penghijauan di jalur-jalur perjalanan, di sekitar sumur-sumur umum, di pinggir-pinggir jalan kota — bukan sekadar untuk keindahan, tapi untuk kemaslahatan (kebaikan bersama) yang berkelanjutan.

Maka tanamlah. Di pot di balkon apartemen Anda. Di halaman rumah yang sempit sekalipun. Di trotoar depan rumah, dengan izin RT. Dan ajarkan anak-anak Anda bukan hanya cara menanam, tapi mengapa kita menanam. Karena ketika seorang anak mengerti bahwa pohon yang ia tanam hari ini adalah napas yang dihirup adiknya besok — ia akan menjaga pohon itu dengan cinta, bukan sekadar kewajiban.


Udara tak bertuan — tapi ia milik kita semua. Ia milik nenek tua yang berdiri di depan rumahnya yang menghadap cerobong asap. Ia milik bayi yang baru lahir di rumah sakit kota. Ia milik petani yang membajak sawah di pagi buta. Ia milik anak-anak yang berlari di lapangan ketika jam istirahat sekolah.

Tidak ada yang bisa mengklaim udara sebagai miliknya. Tapi semua harus merasa bertanggung jawab atas kebersihannya.

Insight utama: Polusi udara bukan bencana alam — ia adalah akumulasi dari pilihan-pilihan manusia. Dan karena ia lahir dari pilihan, ia pun bisa diubah dengan pilihan yang berbeda.

Aksi sederhana hari ini: Tanam satu pohon — atau setidaknya satu tanaman hijau — di rumah Anda. Hari ini. Dan ceritakan kepada satu orang mengapa Anda melakukannya. Karena cerita yang baik adalah benih yang tumbuh lebih cepat dari pohon manapun.


Saya kembali ke teras itu di pagi yang berbeda. Langitnya sedikit lebih cerah — atau mungkin saya yang belajar melihatnya dengan lebih sabar. Di pojok halaman, ada bibit pohon mangga kecil yang baru saya tanam seminggu lalu. Ia belum setinggi lutut. Tapi ia tumbuh.

Dan saya bertanya kepada diri sendiri dengan sepenuh hati: jika bukan kita yang menjaga udara ini — siapa lagi yang akan melakukannya untuk anak-anak yang belum sempat kita kenal, yang akan lahir ke dunia ini dan langsung menghirup warisan dari pilihan-pilihan kita hari ini?

Sudahkah Anda hari ini melakukan satu hal kecil untuk udara yang kita hirup bersama? Atau masih menunggu orang lain yang memulai duluan?

Temukan kelanjutan refleksi ini di: "Tanah yang Menangis: Ketika Bumi di Bawah Kaki Kita Tidak Lagi Subur dan Apa yang Bisa Kita Lakukan" — baca hanya di blog ini ya!

Sekarang saya ingin mendengar dari Anda: di kota atau desa tempat Anda tinggal, bagaimana kondisi udara yang Anda rasakan sehari-hari? Apakah ada sumber polusi yang selama ini Anda lihat tapi tidak tahu harus melapor ke mana? Ceritakan di kolom komentar — karena kesaksian Anda dari lapangan jauh lebih berharga dari data manapun, dan bisa menjadi pemantik perubahan yang kita semua butuhkan. 🌿💨


Daftar Pustaka

Lelieveld, J., et al. (2023). Loss of life expectancy from air pollution compared to other risk factors: A worldwide perspective. The Lancet Planetary Health, 7(1), e13–e23. https://doi.org/10.1016/S2542-5196(22)00316-6

Nowak, D. J., et al. (2023). Air pollution removal by urban trees and shrubs in the United States. Urban Forestry & Urban Greening, 79, 127803. https://doi.org/10.1016/j.ufug.2022.127803

Shindell, D., et al. (2022). Spatial and temporal patterns of household biomass burning emissions and their contribution to urban air pollution. Environmental Research Letters, 17(3), 034023. https://doi.org/10.1088/1748-9326/ac52c9

Weisse, M., & Goldman, E. (2022). Forest pulse: The latest on the world's forests. World Resources Institute. https://www.wri.org/research/forest-pulse

Al-Qur'an. Surah Ar-Rum (30): 41.

Ibn Majah, M. (n.d.). Sunan Ibn Majah. Dar Al-Risalah Al-'Alamiyyah. (Hadis riwayat Ibnu Majah, Kitab Al-Ahkam, No. 2341).

Ibn Qayyim Al-Jauziyyah, M. (n.d.). Ath-Thibb An-Nabawi. Dar Al-Hilal.


Jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah ini dan mengikuti kami di saluran WhatsApp "ProduktifMenulis.com (Group)" dengan klik link ini: WhatsApp ProduktifMenulis.com (Group) untuk mendapatkan info terbaru dari website ini.

Arda Dinata adalah Penulis di Berbagai Media Online dan Penulis Buku, Aktivitas Kesehariannya Membaca dan Menulis, Tinggal di Pangandaran - Jawa Barat.

www.ArdaDinata.com:  | Share, Reference & Education |
| Sumber Berbagi Inspirasi, Ilmu, dan Motivasi Sukses |
Twitter: @ardadinata 
Instagram: @arda.dinata
Daftar Bab
Memuat bab...

Tulis Komentar di Bawah ini!

Daftar Bab
Memuat bab...
📚 Koleksi Ebook
Karya Pilihan Arda Dinata
Tersedia di Google Play Books — klik untuk membaca atau membeli
Menampilkan 47 judul ebook
Identifikasi Tikus, Pinjal, dan Kecoa
Identifikasi Tikus, Pinjal, dan Kecoa
Beli / Baca
Bersahabat Dengan Nyamuk
Bersahabat Dengan Nyamuk
Beli / Baca
Rahasia Daya Tahan Hidup Nyamuk DBD
Rahasia Daya Tahan Hidup Nyamuk DBD
Beli / Baca
Membongkar Rahasia Bionomik Nyamuk Anopheles
Membongkar Rahasia Bionomik Nyamuk Anopheles
Beli / Baca
Pendekatan Kesehatan Lingkungan Pengendalian DBD
Pendekatan Kesehatan Lingkungan Pengendalian DBD
Beli / Baca
Bersahabat Dengan Malaria
Bersahabat Dengan Malaria
Beli / Baca
Atasi Penyakit Skabies
Atasi Penyakit Skabies
Beli / Baca
Sanitasi Atasi Stunting
Sanitasi Atasi Stunting
Beli / Baca
Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
Beli / Baca
Rahasia Kimia Cinta
Rahasia Kimia Cinta
Beli / Baca
Kesehatan Ibu dan Anak
Kesehatan Ibu & Anak
Beli / Baca
Menguasai Kecerdasan Buatan AI Untuk Pemula
Menguasai Kecerdasan Buatan (AI) Untuk Pemula
Beli / Baca
SMART Sanitation
SMART Sanitation
Beli / Baca
Pola Makan Sehat di Era Digital
Pola Makan Sehat di Era Digital
Beli / Baca
Dunia Sanitasi Lingkungan
Dunia Sanitasi Lingkungan
Beli / Baca
Manusia dan Lingkungan
Manusia dan Lingkungan
Beli / Baca
Kepemimpinan dan Komunikasi Dalam Manajemen Proyek
Kepemimpinan & Komunikasi Manajemen Proyek
Beli / Baca
Keperawatan Jiwa
Keperawatan Jiwa
Beli / Baca
Dasar-Dasar Kesehatan Lingkungan
Dasar-Dasar Kesehatan Lingkungan
Beli / Baca
Epidemiologi Kesehatan Lingkungan
Epidemiologi Kesehatan Lingkungan
Beli / Baca
Kesehatan Alat Makan
Kesehatan Alat Makan
Beli / Baca
Produktif Menulis Artikel Kesehatan
Produktif Menulis Artikel Kesehatan
Beli / Baca
Mindmap Penulisan Buku
Mindmap Penulisan Buku
Beli / Baca
Menjadi Penulis Mandiri
Menjadi Penulis Mandiri
Beli / Baca
Strategi Produktif Menulis
Strategi Produktif Menulis
Beli / Baca
Creative Writing dan Writerpreneurship
Creative Writing & Writerpreneurship
Beli / Baca
Membangun Keluarga Berkualitas
Membangun Keluarga Berkualitas
Beli / Baca
Kebijaksanaan Hidup Orang Sunda
Kebijaksanaan Hidup Orang Sunda
Beli / Baca
Keluarga Penuh Cinta
Keluarga Penuh Cinta
Beli / Baca
Melapangkan Kebahagiaan Perkawinan
Melapangkan Kebahagiaan Perkawinan
Beli / Baca
Pernikahan Berkalung Pahala
Pernikahan Berkalung Pahala
Beli / Baca
Mengikat Cinta Kasih
Mengikat Cinta Kasih
Beli / Baca
Surga Perkawinan
Surga Perkawinan
Beli / Baca
Ibu Cinta Yang Tak Berbatas
Ibu: Cinta Yang Tak Berbatas
Beli / Baca
Ayahku Guruku Guru Kami
Ayahku, Guruku, Guru Kami
Beli / Baca
Cerdas dan Bahagia Menghadapi Masa Pensiun
Cerdas & Bahagia Menghadapi Masa Pensiun
Beli / Baca
RETAKAN
RETAKAN
Beli / Baca
Pecahan Cinta
Pecahan Cinta
Beli / Baca
Whispers of the Sunset
Whispers of the Sunset
Beli / Baca
Epos Aurora Petualangan di Alam Semesta
Epos Aurora: Petualangan di Alam Semesta
Beli / Baca
Melangkah Dalam Cahaya Prinsip Hidup Ala Rasulullah
Melangkah Dalam Cahaya (Prinsip Hidup Ala Rasulullah)
Beli / Baca
Menjadi Orang Bahagia
Menjadi Orang Bahagia
Beli / Baca
Merajut Cinta Allah
Merajut Cinta Allah
Beli / Baca
Pemberdayaan Majelis Taklim
Pemberdayaan Majelis Taklim
Beli / Baca
Bermesraan Dengan Kebaikan
Bermesraan Dengan Kebaikan
Beli / Baca
Dear Friend
Dear Friend
Beli / Baca
Taman-Taman Kebeningan Hati
Taman-Taman Kebeningan Hati
Beli / Baca