Arda Publishing
Arda Dinata
Arda Dinata
Arda Dinata adalah penulis storytelling religius yang dikenal dengan gaya penulisannya yang lembut, empatik, dan tidak menggurui. Dengan pengalaman menulis ratusan ribu konten inspiratif yang menyentuh pembaca.

🌐 Jaringan Blog Arda Dinata
Logo Buku dan Novel Inspiratif Online
Temukan lebih banyak
Memuat daftar buku...
Rajasinga Paru: Jejak Batuk Berdarah dalam Lintasan Sejarah Nusantara
Arda Dinata
Dilihat ... Bab

📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!


"Kesehatan bukan hanya tentang tidak adanya penyakit, tetapi tentang keseimbangan harmonis antara manusia, alam, dan sesama. Dalam mengalahkan 'rajasinga paru,' kita tidak hanya memerlukan obat yang manjur, tetapi juga hati yang peduli dan tangan yang saling menggenggam." (Sumber foto: istimewa).

Oleh: Arda Dinata

REFERENSI SANITARIAN"Tuberculosis is a social disease with medical aspects, not a medical disease with social aspects." — Rudolf Virchow, 1821-1902

Di sudut kampung tua Karawang, Jawa Barat, masih terdengar sebutan "penyakit rajasinga paru" untuk menyebut tuberkulosis. Istilah yang menggelitik ini bukan sekadar penamaan sembarangan, melainkan refleksi mendalam tentang bagaimana nenek moyang kita memahami penyakit yang telah menemani peradaban manusia selama ribuan tahun.

Mbok Sarni, seorang dukun kampung berusia 75 tahun, masih ingat betul cerita yang diturunkan ibunya tentang "hantu batuk berdarah" yang kerap menghantui keluarga-keluarga miskin di era kolonial. "Dulu orang bilang, kalau ada yang batuk darah terus-menerus, itu tandanya ada raja setan yang bersarang di paru-paru," ujarnya sambil meracik jamu kunir asem untuk tetangganya yang sedang batuk berkepanjangan.

Kepercayaan serupa tersebar di berbagai penjuru Nusantara. Di Minangkabau, TBC disebut "batua bariah" (batuk berdarah), sementara masyarakat Bugis menyebutnya "ubo' dare'" dengan makna yang sama. Di Bali, penyakit ini dikenal sebagai "batuk getih," dan di tanah Dayak Kalimantan, disebut "batuk pakai darah." Semua penamaan ini mengindikasikan satu gejala utama yang paling menakutkan dari TBC: batuk berdarah yang berkepanjangan.

Tuberkulosis atau TBC sesungguhnya bukanlah penyakit baru. Jejak arkeologis menunjukkan bahwa bakteri Mycobacterium tuberculosis telah menginfeksi manusia sejak 9.000 tahun yang lalu. Di Mesir kuno, mumi-mumi yang berusia 4.000 tahun menunjukkan tanda-tanda kerusakan tulang belakang akibat TBC tulang. Hippocrates, bapak kedokteran dunia, menyebut TBC sebagai "phthisis," yang berarti "konsumsi" atau "pemborosan," karena penyakit ini membuat penderitanya kuru hingga tinggal tulang dan kulit.

Di Nusantara, jejak TBC dapat ditelusuri dari prasasti-prasasti kuno dan naskah-naskah Jawa. Dalam Serat Centhini, karya sastra Jawa abad ke-19, terdapat penyebutan tentang penyakit yang gejalanya mirip TBC, yang disebut sebagai "lara kuru" (penyakit kurus). Masyarakat Jawa kuno percaya bahwa penyakit ini disebabkan oleh gangguan keseimbangan unsur dalam tubuh atau "sangar"-nya makhluk halus.

Ketika penjajah Belanda masuk ke Indonesia, mereka membawa serta berbagai penyakit, termasuk strain TBC yang lebih ganas. Laporan-laporan medis kolonial menunjukkan bahwa TBC menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di kalangan pribumi. Dr. Willem Bosch, dokter militer Belanda yang bertugas di Hindia Belanda pada 1850-an, mencatat bahwa "penyakit konsumsi sangat merajalela di kalangan penduduk pribumi, terutama mereka yang tinggal di pemukiman padat dan kondisi sanitasi buruk."

Ironisnya, kondisi sosial-ekonomi yang diciptakan sistem kolonial justru menyuburkan penyebaran TBC. Kerja paksa, malnutrisi, dan kondisi hunian yang tidak layak menjadi lahan subur bagi bakteri M. tuberculosis untuk berkembang biak. Sistem tanam paksa (cultuurstelsel) yang diterapkan sejak 1830 memaksa petani bekerja keras tanpa gizi yang cukup, sehingga daya tahan tubuh mereka menurun drastis.

Dari perspektif medis modern, TBC adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini menyerang terutama paru-paru, namun dapat juga menyerang organ lain seperti tulang, kelenjar getah bening, dan otak. Penularan terjadi melalui droplet atau percikan dahak ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara.

World Health Organization (WHO) mencatat bahwa TBC masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi akibat penyakit menular di dunia. Pada 2022, diperkirakan 10,6 juta orang terinfeksi TBC dan 1,3 juta orang meninggal karenanya. Indonesia menempati urutan kedua dunia dalam hal jumlah kasus TBC, dengan estimasi 969.000 kasus baru pada 2022.

Yang menarik, pola penyebaran TBC di Indonesia masih mengikuti jejak sejarah kolonial. Daerah-daerah yang dulu menjadi pusat eksploitasi ekonomi kolonial, seperti Jawa dan Sumatra, hingga kini masih menunjukkan angka prevalensi TBC yang tinggi. Kemiskinan, kepadatan penduduk, dan kondisi sanitasi yang buruk—warisan struktur sosial kolonial—masih menjadi faktor utama penyebaran TBC.

Dr. Tjandra Yoga Aditama, pakar pulmonologi Indonesia, menjelaskan bahwa TBC bukan sekadar masalah medis, melainkan cerminan kondisi sosial-ekonomi masyarakat. "TBC adalah penyakit kemiskinan. Di mana ada kemiskinan, di situ TBC berkembang," ujarnya dalam sebuah seminar kesehatan nasional.

Dalam tradisi pengobatan Nusantara, TBC ditangani dengan berbagai ramuan herbal. Masyarakat Jawa menggunakan rebusan daun sirih merah, jahe, dan madu untuk mengurangi batuk berdarah. Di Sumatra, ekstrak daun katuk dipercaya dapat memperkuat paru-paru. Sementara di Sulawesi, masyarakat Bugis menggunakan ramuan kunyit, temulawak, dan madu hutan untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Penelitian modern membuktikan bahwa beberapa tanaman tradisional memang memiliki khasiat sebagai imunomodulator dan antimikroba. Kunyit (Curcuma longa) mengandung curcumin yang memiliki sifat anti-inflamasi dan antimikroba. Jahe (Zingiber officinale) mengandung gingerol yang dapat meningkatkan sistem imun. Namun, pengobatan tradisional ini hanya bersifat suportif dan tidak dapat menggantikan terapi antibiotik modern.

Penemuan streptomisin oleh Selman Waksman pada 1943 menjadi titik balik dalam pengobatan TBC. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, manusia memiliki senjata yang efektif melawan "rajasinga paru" ini. Namun, kegembiraan ini tidak berlangsung lama. Bakteri TBC ternyata cepat bermutasi dan mengembangkan resistensi terhadap antibiotik tunggal.

Hal ini mendorong pengembangan terapi kombinasi yang dikenal sebagai DOTS (Directly Observed Treatment, Short-course). Strategi ini memadukan beberapa jenis antibiotik yang diminum secara teratur selama 6-8 bulan dengan pengawasan ketat. Indonesia mengadopsi strategi DOTS sejak 1995 dan berhasil menurunkan angka kematian TBC secara signifikan.

Namun, tantangan baru muncul dalam bentuk TBC resisten obat (MDR-TB dan XDR-TB). Bakteri TBC yang sudah resisten terhadap obat-obat lini pertama memerlukan pengobatan yang lebih lama, lebih mahal, dan dengan efek samping yang lebih berat. Di Indonesia, diperkirakan ada sekitar 24.000 kasus TBC resisten obat setiap tahunnya.

Dalam konteks budaya, stigma terhadap TBC masih sangat kuat di masyarakat Indonesia. Banyak penderita yang menyembunyikan penyakitnya karena takut dikucilkan. Di beberapa daerah, TBC masih dianggap sebagai "penyakit kutukan" atau "penyakit memalukan." Stigma ini ironisnya justru memperburuk penyebaran penyakit karena penderita enggan berobat dan cenderung menularkan kepada orang lain.

Kampanye edukasi kesehatan harus mempertimbangkan aspek kultural ini. Program "TBC Hilang dari Bumi Cendrawasih" di Papua, misalnya, melibatkan tokoh adat dan pemimpin agama dalam sosialisasi. Pendekatan ini terbukti lebih efektif dibandingkan penyuluhan konvensional yang hanya mengandalkan tenaga medis.

Pandemi COVID-19 memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya sistem kesehatan yang kuat dalam menghadapi penyakit menular. Ironisnya, pandemi ini juga mengakibatkan penurunan deteksi dan pengobatan TBC karena terfokusnya sumber daya kesehatan untuk menangani COVID-19. WHO memperkirakan bahwa pandemi COVID-19 telah "memundurkan" upaya pemberantasan TBC hingga 5-8 tahun.

Menariknya, ada beberapa kesamaan antara COVID-19 dan TBC dalam hal penularan dan faktor risiko. Keduanya menyebar melalui droplet, sama-sama menyerang sistem pernapasan, dan sama-sama lebih berbahaya bagi kelompok rentan seperti lansia dan penderita komorbid. Pengalaman menangani COVID-19 dengan melibatkan teknologi digital, pelacakan kontak, dan partisipasi masyarakat dapat diadaptasi untuk program pengendalian TBC.

Teknologi modern membuka peluang baru dalam pengendalian TBC. Aplikasi smartphone dapat membantu pasien mengingat jadwal minum obat. Tes diagnostik berbasis molecular seperti GeneXpert dapat mendeteksi TBC dan resistensi obat dalam waktu 2 jam. Bahkan, kecerdasan buatan (AI) sudah mulai diterapkan untuk membaca foto rontgen dada dan mendeteksi TBC secara otomatis.

Namun, teknologi canggih ini harus diiringi dengan pendekatan yang humanistik dan mempertimbangkan konteks sosial-budaya. Program "TBC Mobile" yang dikembangkan di beberapa kabupaten di Indonesia menggabungkan teknologi smartphone dengan pendekatan kultural lokal, seperti melibatkan kader posyandu dan tokoh agama sebagai motivator pengobatan.

Ke depan, eliminasi TBC memerlukan pendekatan yang holistik dan lintas sektor. Tidak cukup hanya dengan memperkuat sistem kesehatan, tetapi juga harus mengatasi akar masalah sosial-ekonomi yang menjadi lahan subur TBC: kemiskinan, malnutrisi, kondisi hunian yang buruk, dan polusi udara.

Target WHO untuk mengakhiri epidemi TBC pada 2030 memerlukan komitmen politik yang kuat, investasi yang berkelanjutan, dan partisipasi aktif masyarakat. Indonesia dengan kekayaan budaya dan kearifan lokalnya memiliki potensi besar untuk menjadi model dalam pengendalian TBC yang efektif dan berkeadilan.

Kisah "rajasinga paru" dalam lintasan sejarah Nusantara mengajarkan kita bahwa penyakit tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu terkait dengan konteks sosial, ekonomi, politik, dan budaya zamannya. Memahami sejarah adalah kunci untuk merancang strategi pengendalian yang tepat sasaran dan berkelanjutan.

Mbok Sarni, dukun kampung dari Karawang itu, mungkin tidak memahami bakteri M. tuberculosis secara mikroskopis. Namun, wisdom lokalnya yang menekankan pentingnya gizi yang baik, lingkungan yang bersih, dan dukungan sosial ternyata sejalan dengan prinsip-prinsip pengendalian TBC modern. Inilah kearifan yang perlu kita jaga dan integrasikan dengan kemajuan sains dan teknologi.

"Kesehatan bukan hanya tentang tidak adanya penyakit, tetapi tentang keseimbangan harmonis antara manusia, alam, dan sesama. Dalam mengalahkan 'rajasinga paru,' kita tidak hanya memerlukan obat yang manjur, tetapi juga hati yang peduli dan tangan yang saling menggenggam."

Arda Dinata, adalah Peneliti dan Tenaga Sanitasi Lingkungan (TSL) Ahli Muda di Loka Labkesmas Pangandaran, Kemenkes RI.

Daftar Pustaka

Aditama, T. Y. (2018). Tuberkulosis: Diagnosis, Terapi, dan Masalahnya. Jakarta: Yayasan Penerbitan Ikatan Dokter Indonesia.

Dye, C., Scheele, S., Dolin, P., Pathania, V., & Raviglione, M. C. (1999). Consensus statement. Global burden of tuberculosis: estimated incidence, prevalence, and mortality by country. JAMA, 282(7), 677-686.

Kementerian Kesehatan RI. (2023). Profil Kesehatan Indonesia 2022. Jakarta: Kemenkes RI.

Reid, M. J., Arinaminpathy, N., Bloom, A., Bloom, B. R., Boehme, C., Chaisson, R., ... & Menzies, D. (2019). Building a tuberculosis-free world: The Lancet Commission on tuberculosis. The Lancet, 393(10178), 1331-1384.

World Health Organization. (2023). Global Tuberculosis Report 2023. Geneva: WHO Press.

Zumla, A., Raviglione, M., Hafner, R., & von Reyn, C. F. (2013). Tuberculosis. New England Journal of Medicine, 368(8), 745-755.

***

Dapatkan Informasi tentang: REFERENSI DUNIA SANITARIAN & KESEHATAN LINGKUNGAN (Kesehatan lingkungan, dasar keslling, hyperkes, lingkungan fisik, sampah, rumah sehat, promkes, profesi sanitarian, sanitai makanan, sanitasi tempat umum, vektor penyakit dan binatang pengganggu) hanya di: https://www.referensi.insanitarian.com/

Jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah ini dan mengikuti kami di saluran WhatsApp "ProduktifMenulis.com (Group)" dengan klik link ini: WhatsApp ProduktifMenulis.com (Group) untuk mendapatkan info terbaru dari website ini.

Arda Dinata adalah Sanitarian Ahli & Penanggung Jawab Laboratorium Kesehatan Lingkungan, Tinggal di Pangandaran - Jawa Barat.

www.ArdaDinata.com:  | Share, Reference & Education |
| Sumber Berbagi Inspirasi, Ilmu, dan Motivasi Sukses |
Twitter: @ardadinata 
Instagram: @arda.dinata
Telegram: ardadinata

Toko Sosmed
Klik Di Sini Melihat Koleksi Ebook Karya Arda Dinata Lainnya

A Group Member of:
Toko SosmedToko SosmedToko SosmedWWW.ARDADINATA.COMWWW.ARDADINATA.COMInSanitarianMIQRA INDONESIA


Daftar Bab
Memuat bab...

Tulis Komentar di Bawah ini!

Daftar Bab
Memuat bab...
📚 Koleksi Ebook
Karya Pilihan Arda Dinata
Tersedia di Google Play Books — klik untuk membaca atau membeli
Menampilkan 47 judul ebook
Identifikasi Tikus, Pinjal, dan Kecoa
Identifikasi Tikus, Pinjal, dan Kecoa
Beli / Baca
Bersahabat Dengan Nyamuk
Bersahabat Dengan Nyamuk
Beli / Baca
Rahasia Daya Tahan Hidup Nyamuk DBD
Rahasia Daya Tahan Hidup Nyamuk DBD
Beli / Baca
Membongkar Rahasia Bionomik Nyamuk Anopheles
Membongkar Rahasia Bionomik Nyamuk Anopheles
Beli / Baca
Pendekatan Kesehatan Lingkungan Pengendalian DBD
Pendekatan Kesehatan Lingkungan Pengendalian DBD
Beli / Baca
Bersahabat Dengan Malaria
Bersahabat Dengan Malaria
Beli / Baca
Atasi Penyakit Skabies
Atasi Penyakit Skabies
Beli / Baca
Sanitasi Atasi Stunting
Sanitasi Atasi Stunting
Beli / Baca
Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
Beli / Baca
Rahasia Kimia Cinta
Rahasia Kimia Cinta
Beli / Baca
Kesehatan Ibu dan Anak
Kesehatan Ibu & Anak
Beli / Baca
Menguasai Kecerdasan Buatan AI Untuk Pemula
Menguasai Kecerdasan Buatan (AI) Untuk Pemula
Beli / Baca
SMART Sanitation
SMART Sanitation
Beli / Baca
Pola Makan Sehat di Era Digital
Pola Makan Sehat di Era Digital
Beli / Baca
Dunia Sanitasi Lingkungan
Dunia Sanitasi Lingkungan
Beli / Baca
Manusia dan Lingkungan
Manusia dan Lingkungan
Beli / Baca
Kepemimpinan dan Komunikasi Dalam Manajemen Proyek
Kepemimpinan & Komunikasi Manajemen Proyek
Beli / Baca
Keperawatan Jiwa
Keperawatan Jiwa
Beli / Baca
Dasar-Dasar Kesehatan Lingkungan
Dasar-Dasar Kesehatan Lingkungan
Beli / Baca
Epidemiologi Kesehatan Lingkungan
Epidemiologi Kesehatan Lingkungan
Beli / Baca
Kesehatan Alat Makan
Kesehatan Alat Makan
Beli / Baca
Produktif Menulis Artikel Kesehatan
Produktif Menulis Artikel Kesehatan
Beli / Baca
Mindmap Penulisan Buku
Mindmap Penulisan Buku
Beli / Baca
Menjadi Penulis Mandiri
Menjadi Penulis Mandiri
Beli / Baca
Strategi Produktif Menulis
Strategi Produktif Menulis
Beli / Baca
Creative Writing dan Writerpreneurship
Creative Writing & Writerpreneurship
Beli / Baca
Membangun Keluarga Berkualitas
Membangun Keluarga Berkualitas
Beli / Baca
Kebijaksanaan Hidup Orang Sunda
Kebijaksanaan Hidup Orang Sunda
Beli / Baca
Keluarga Penuh Cinta
Keluarga Penuh Cinta
Beli / Baca
Melapangkan Kebahagiaan Perkawinan
Melapangkan Kebahagiaan Perkawinan
Beli / Baca
Pernikahan Berkalung Pahala
Pernikahan Berkalung Pahala
Beli / Baca
Mengikat Cinta Kasih
Mengikat Cinta Kasih
Beli / Baca
Surga Perkawinan
Surga Perkawinan
Beli / Baca
Ibu Cinta Yang Tak Berbatas
Ibu: Cinta Yang Tak Berbatas
Beli / Baca
Ayahku Guruku Guru Kami
Ayahku, Guruku, Guru Kami
Beli / Baca
Cerdas dan Bahagia Menghadapi Masa Pensiun
Cerdas & Bahagia Menghadapi Masa Pensiun
Beli / Baca
RETAKAN
RETAKAN
Beli / Baca
Pecahan Cinta
Pecahan Cinta
Beli / Baca
Whispers of the Sunset
Whispers of the Sunset
Beli / Baca
Epos Aurora Petualangan di Alam Semesta
Epos Aurora: Petualangan di Alam Semesta
Beli / Baca
Melangkah Dalam Cahaya Prinsip Hidup Ala Rasulullah
Melangkah Dalam Cahaya (Prinsip Hidup Ala Rasulullah)
Beli / Baca
Menjadi Orang Bahagia
Menjadi Orang Bahagia
Beli / Baca
Merajut Cinta Allah
Merajut Cinta Allah
Beli / Baca
Pemberdayaan Majelis Taklim
Pemberdayaan Majelis Taklim
Beli / Baca
Bermesraan Dengan Kebaikan
Bermesraan Dengan Kebaikan
Beli / Baca
Dear Friend
Dear Friend
Beli / Baca
Taman-Taman Kebeningan Hati
Taman-Taman Kebeningan Hati
Beli / Baca